Novel buatan sendiri



BERMALAM DI RUMAH TUA
            Pagi itu aku dan teman-teman berangkat bersama kesekolah, kami bersekolah di SMK Tunas Bangsa, ceritanya sih sekolah baru “kringkringkring....... bel berbunyi”tanda masuk kekelas jam pelajaran pertama pun mulai seperti biasanya jam pertama tuh asik-asik, jam kedua juga sama, sampai jam kelima mulai udah deh ngantuk lapar melanda rasanya gimana gituh. Nah lima menit terakhir adalah moment yang paling ditunggu rasanya tu seperti derita yang telah berakhir gitu kata-kata kami saat mau pulang, “kringkringkring......”bel pulang berbunyi kamipun pulang kerumah masing-masing. Seperti biasa udah pulang gue langsung ganti baju, makan habis itu main ke rumah kawan. Kapan lagi kan bisa ngumpul sama kawan mumpung masih muda, sesampainya di rumah Mika  pas nih lagi rame teman sekonco ngumpul ngerumpi, eeh pas lagi ngomong serius Gery nantang nih buat uji nyali biar keren gitu kayak yang di tv-tv, kami pun ngebahas kapan dengan dimana lokasi yang pas dan angker. Udah jam lima kurang kami pulang kerumah dan memutuskan untuk membicarakannya besok pulang sekolah seperti biasa. Saat pulang aku melihat rumah di jalan. Cahaya indah ada rumah tua yang ngak berpenghuni, menurut cerita orang-orang sih katanya angker, sekitar jam 12 tepat biasanya ada bunyi dering telepon dari dalam rumah itu dan pintu terbuka bahkan seperti ada suara anak kecil yang sedang nangis. Saat lewat rumah itu bulu kudukku mulai merinding, gimana ngak takut ceritanya aja kayak gituk pasti takutlah aku memutuskan untuk cepat pulang kerumah. Sampai dirumah aku mandi dan langsung tidur. Jam 5 pagi, alarm di kamarku berbunyi, aku mandi, gosok gigi, sarapan lalu mengantar adikku dan langsung pergi kesekolah. Seperti biasa sebelum masuk kami ngerumpi. Bel masuk berbunyi, kami pun memulai kegiatan belajar kami saat mengambil buku aku teringat, aku belum mengemas buku untuk hari ini aku pun mulai khawatir.
            Tetapi kekhawatiranku hilang seketika dan senang yang tiba, karena wali kelas kami mengumumkan cepat pulang karena dewan guru dan kepala sekolah mengadakan rapat mendadak tentang kegiatan ulang tahun sekolah. Kami bersorak senang inilah yang ingin kami harapkan. Kami pun bergegas pulang, setelah sampai ke rumah aku langsung ke rumah Mika di sana tinggal dua orang Deni dengan Heri kami sih Cuma berlima, sambil nunggu mereka gue numpang makan, sekitar 15 menit mereka berdua datang kami mulai ngebahas buat acara kemarin dua jam berlalu akhirnya di putuskan bermumpung besok  hari minggu, dan tempat yang kemarin gue bilang cukup terkenal angker hasilnya malam ini dan tempat nya di rumah tua jalan cahaya indah kami pun pulang kerumah minta ijin ke orang rumah bilangnya sih ijin nginap kerumah Mika. Setelah itu berkumpul kembali di rumah Mika Karena jaraknya lumayan dekat dari jalan itu. Sambil menunggu kami menyiapkan alat buat jaga-jaga ada yang bawa senter, rosario, alkitab, lilin, handycam, snack, bantal, selimut udah kayak mau pindah rumah aja. Udah sekitar jam 10 kurang kami pergi, karena cukup dekat kami kesana hanya jalan kaki kendaraan kami tinggalkan di rumah Mika.
            Udah sampai disana kawasannya udah sepi dan dengan suasana yang mencekam tubuh kami mulai merinding padahal masuk aja belum kami membuka pagar suara gesekkan pagar kayak yang di tv ngenes serem abis. Udah itu Gery membuka pintu, lampu di ruang tamu kedip-kedip suasana makin seram kami pun memutuskan untuk uji nyalinya sama-sama karena takut kenapa-napa, kami menyalakan penerangan yang ada setelah itu kami menyusuri setiap bagian rumah agak ribet sih karena rumah nya cukup besar tingat dua lagi. Sebelum itu gue akan ceritain yang gue tau tentang rumah ini begini ceritanya. “Malam itu kalau ngak salah pas malam rabu di rumah pak Feri, ceritanya pak Feri yang punya rumah tua ini dan ia tinggal sendiri karena anaknya meninggal saat di dalam janin sang ibu dan istrinya meninggal setelah melahirkan, katanya pada malam itu ada perampokkan di jalan cahaya indah orang sekitar daerah itu mengadakan siskamling keliling daerah itu saat berada di depan rumah Pak Feri terdengar suara teriakan, mereka curiga dan bergegas masuk ke dalam mereka mulai menyisir sekitar rumah tetapi tidak ada apa-apa yang mencurigakan  dan saat masuk ke kamar mereka melihat tubuh pak feri tergeletak di lantai dengan bersimbah darah dan banyak luka tusuk benda tajam di sekitar dada kurang lebih 10 sampai 15 kali pagi itu polisi memeriksa tetapi tidak terdapat apapun dan hanya bercak darah di ranjang tempat pak feri tidur. Sekitar jam 8 pagi jenazah pak feri di semayamkan, setelah itu rumah pak feri di tutup hingga sekarang dan pelaku pembunuhan belum di tangkap karena kasus pembunuhan pak feri telah ditutup setahun setelah kematiannya hal ini membuat masyarakat takut jika kejadian 13 tahun itu terulang kembali. Hanya itu sih yang gue tau”.
            Jam 12 tepat, sudah dua jam kami berkeliling tetapi kami belum menemukan apapun, kami kembali ke pintu awal, Gery pun mengambil handycam di dalam tasnya dia menggunakan infrared, saat itulah mulai terjadi keanehan-keanehan tiba-tiba tampak sosok aneh terekam dan pintu untuk kami masuk tertutup sendiri, bulu kuduk kami mulai berdiri dan kami memilih berkeliling mencari jalan keluar siapa tau ada pintu belakang, kami mulai berjalan melihat-lihat sekitar kami tidak menyadari ada ruangan yang terbuka setau kami saat kami pertama kali berkeliling tidak ada menemukan pintu ruangan yang terbuka, aku memutuskan agar memasuki ruangan itu, lampu ruangan yang tidak menyala jendela terbuka suara hujan, angin dan petir membuat suasana makin seram saat masuk kami melihat-lihat tidak ada yang aneh, tiba-tiba..........ada suara aneh kemungkinan suara tersebut berada di ruang sebelah suasana semakin mencekam aku langsung pergi melihat ruangan tersebut tanpa teman-teman, saat aku ingin masuk pintu itu ternyata di kunci aku memanggil teman-teman yang lain, saat mereka tiba suara aneh itu terdengar lagi, aku mengajak mereka untuk melihat ruangan tersebut. “jangan rik nanti kalau ada apa-apa sama kamu gimana nanti kan ribet, dan kamu jangan sok berani deh emang kamu ngak takut apa” marah Gery. “ya enggak lah gue kan Cuma mau lihat di dalam ruangan itu ada apa, kalau ngak di lihat mana kita tau kalau ngak ada apa-apa”sahut Riki.  “iya juga sih, yuk masuk kedalam.”. balas Gery. “ya udah tunggu apa lagi” sambung Heri. “ percuma” potong Riki. “kenapa” tanya Deni. “ pintunya gak bisa di buka, kuncinya ngak ada”.jawab Riki. “kalau gitu gimana” tanya Deni kembali. “kita bagi dua tim Gery, Deni dan Heri cari di depan, sedangkan gue dengan Mika cari di belakangingat kunci bermerk SATUR kalau udah langsung kembali kesini lagi ingat jangan pernah pisah dengan yang lain, nah ayo kita berpencar.” Saat itu kami berpencar aku dan Mika bergegas ke belakang tujuan pertama kami adalah dapur saat sampai di dapur kami mulai mencari-cari,..................................................bersambung